JAGUNG HIBRIDA

Dalam pengembangan dan memproduksi benih jagung hibrida yang bermutu ada 2 (dua) hal
yang perlu diperhatikan yaitu cara bercocok tanam dan pemeliharaan tanaman. Cara bercocok tanam
untuk tujuan produksi benih pada dasarnya sama dengan untuk tujuan konsumsi. Namun untuk tujuan
produkis benih diperlukan persyaratan dan perlakuan khusus untuk menjamin sejak dini mutu benih
yang dihasilkan.
Pemeliharaan juga memiliki pengertian yang luas dibanding dengan pemeliharaan pertanaman
untuk tujuan konsumsi. Dalam produksi benih pemeliharaan pertanaman merupakan tindakan
penelitian pertanaman sejak awal sampai dengan pemungutan hasil. Titik berat tindakan adalah
melakukan penelitian di lapangan agar hasil diperoleh memenuhi persyaratan kemurnian, keseragaman
dan kebersihan sesuai dengan garis dan deskripsi dari varietas yang di tanam.
Sehingga kegitan dalam perbanyakan benih jagung hibrida harus melalui tahap – tahap yang sesuai agar
dapat diperoleh benih hybrid yang bermutu tinggi, kegiatan ini meliputi:
1. MERENCANAKAN PRODUKSI BENIH
Perencanaan produksi benih merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum produksi
benih suatu varietas dilakukan, diakui bahwa pekerjaan ini merupakan pekerjaan ini merupakan
pekerjaan yang tidak mudah dan tidak akan pernah sempurna, karena banyak sekali faktor yang
terkait yang dapat mempengaruhi rencana yang telah dibuat.
Perencanaan produksi dilakukan pada waktu produsen akan memproduksi benih suatu
varietas, dan tidak dimaksudkan untuk menunjuk pada pembuatan rencana jangka panjang missal 5
tahun karena hal ini sifatnya toritis dan sangat terpengaruh oleh kondisi Negara terutama masalah
ekonomi dan politik. Meskipun demikian perencanaan prodiksi benih harus tetap memperhatikan
trend jangka waktu dua atau tiga musim tanam mendatang, berkiatan dengan program produksi
dimana untuk menghasilkan sejumlah benih sering kali dibutuhkan waktu panjang tergantung dari
varietasnya.
Peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar baik melalui peningkatan
produktivatas maupun perluasan areal tanam. Meskipun produksi jagung meningkat, namun secara
umum tingkat produktivitas jagung Nasional masih rendah , yaitu baru mencapai 3,1 ton/ha. Kegiatan
litbang jagung dari berbagi instansi baik pemerintah atau swasta telah mampu menyediakan
teknologi produksi jagung dengan tingkat produktivitas 4,5-10 ton/ha tergantung dari potensi dan
teknologi produksiya.
Telah diketahui bahwa produktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh lingkungan (iklim
dan kondisi lahan) dan varietas yang telah ditanam. Aplikasi teknik budidaya jagung tepat disuatu
lahan akan mampu membantu ketersedian unsur hara yang diperlukan dan akan memberikan hasil
yang lebih tinggi. Populasi tanaman juga merupakan salah satu faktor yang menentukan produksi
tanaman. Populasi atau jarak tanam erat hubungannya dengan umur varitas yang di tanam.
Pengembangan jagung akan berjalan baik jika petani merasa memperolah pendapatan yang
menguntungkan, untuk itu diperlukan teknolgi atua pendekatan budidaya jagung yang mampu
memberikan produktivitas tinggi persatuan luas lahan dan dalam produksi yang efesien. Bertalian
dengan hal tersebut produksi jagung melalui pendekatan pengolahan sumber daya tanam terpadu
dengan menerapkan sejumlah komponen teknologi budidaya yang memberikan pengaruh secara
sinergistik merupakan pendekatan yang sesuai.
Salah satu hal yang berkaitan dengan perencanaan adalah pemilihan lokasi untuk tanaman,
perbanyakan F 1 harus diisolasi dari tanaman jagung lainnya. Lahan harus mudah diari bila musim
kemarau dan dapat dibuang airnya bila musim penghujan, penananamn dilakukan pada akhir musim
penghujan sampai musim kemarau, karena serangan hama penyakit, masa pembungaan dan
pemanenan tidak menjadi faktor kesulitan. Pola lahan yang dipakai sebaiknya bukan bekas tanaman
jagung, karena kemungkinan pada saat tanam terdapat volunteer dan ini akan menylitkan dalam
penyeleksian, rouging dan jelas ini akan mengkontaminasi perbanyakan benih, lahan yang digunakan
harus terbuka tidak boleh ternaungi terutama dari arah timur.
2. MEMPRODUKSI BENIH DI LAPANGAN
Sebelum pelaksanan kegiatan dilapangan dilakukan harus mengetahui persyaratan umum
untuk mendpatkan hasil panen yang optimal, kondisi lingkungan dan lokasi terbaik untuk
pertanaman jagung memerlukan persyaratan :
Tinggi tempat : 0 – 1000 m dpl
Suhu : 210C– 23 0C dan suhu optimum 240C – 30 0C
pH tanah : 5,5 – 7,00
Curah hujan : 250- 2000 mm/th
Sinar matahari : intensitasnya cukup dan tidak ternaungi
Jenis tanah : terbaik lempung berdebu, lempung berpasir dan lempung
Waktu tanam : persyaratan tumbuh yang cukup air biasanya pada lahan sawah
setelah pertanaman padi pada lahan tegal awal musim penghujan.
Beberapa tahapan dalam memproduksi benih jagung hibrida,
a. Pengolahan Tanah
Pengolahan dilakukan sebaik mungkin seperti membajak dan meratakan untuk lahan
yang berstekstur berat agak lebih sulit mengolahnya dibanding dengan tanah yang bertekstur
ringan, terutama dalam mengaturan draenase dan aerase apabila pengaturan ini diatur dengan
baik maka pertumbuhan tanaman akan baik sesuai dengan yang kita inginkan.
b. Tanam
Perlu dipersipakan tambang plastik yang telah diberi jarak tanam misalnya 20 cm
dalam barisan tanaman. Untuk jarak tanam antar barisan diperlukan ajir dari bambu untuk
menentukan jarak apabila 70 cm atau 75 cm atau beberapa yang sesuai yang direncanakan. Cara
bertanam di tugal sedalam + 5 cm sebainya waktu tanam digunakan pupuk kandang bisa berupa
kotoran sapi atau ayam kotoran yang digunakan untuk menutup lubang tanam, benih yang
ditanam satu biji/lubang tetapi diselang seling ada 2 biji. Hal ini untuknmenghidari penyulaman
karena akan membuat tanaman tidak seragam dan mempersulit detaselling, apabila tanaman
berlebihan kemudian diperjarang kemudian pula diberi furadan sebelum ditutup, pupuk dasar
dapat langsung diberikan atau ketika tanaman sudah tumbuh.
c. Pemeliharaan Tanaman
Setelah tanaman tumbuh umur 5-6 hari setelah tanam, tanaman mulai di pelihara, hama
yang berbahaya pada awal pertumbuhan adalah lalat bibit, terutama banyak menyerang pada
musim penghujan. Untuk perbanyakan F1 selain sudah memakai furadan pada saat tanam dan
marshall pada saat treatment akan tetapi harus dipantau dan semprot kembali dengan insektisida
(decis) menggunakan dosis ½ cc lt air, bila serangan berat akan mengakibatkan daun rusak pucuk
daun layu, tanaman tidak mau tumbuh atau perkembangan terhambat berakibat pertumbuhan
tanaman terhambat berakibat pertumbuhan tanaman bergam sehingga pembungaan tidak akan
bersamaan hal ini harus diantisipasi dan dilakukan tindakan preventif, pengalaman dengan
menggunakan decis dengan aplikasi 3 minggu sekali dapat mengatasi hama lalat bibit.
Pemelihaaraan lainnya adalah penyiangan, perlu dilakukan agar tidak mengganggu
pertumbuhan tanaman jagung, penyiangan yang lambat terutama pada tanah-tanah tidak subur
dan mempengaruhi pertumbuhan galur–galur murni yang ditanam. Penjarangan tanaman harus
tepat waktu juga harus dilkukan agar antar tanaman tidak terjadi kompetisi yang akhirnya akan
mempengaruhi produksi.
Pemupukan susulan pertama dilakukan umur 3-4 minggu setelah tanam pemupukan susulan ke
dua pada umur 6 minggu setelah tanam, pemupukan harus sesuai dengan kebutuhan tanaman,
yang paling berbahaya pertumbuhan tetua jagung jantan terganggu maka akan terjadi
pembungaan yang tidak singkron dan jumlah tepung sari yang akan lebih sedikit.
Pada saat menjelang berbunga perlu perlu dilakukan seleksi atau roging yaitu untuk
membuang tanaman yang tinggi dan rata-rata tinggi tanaman pada umumnya. Rouging ini sangat
dan harus dilakukan agar hasil hybrid ya g diperoleh bermutu tinggi.
Pada saa pencabutan bunga jantan atau malai pada barisan pada betina harus tepat
waktu dan harus berhasil dan jangan sampai tertinggal. Bila tetinggal akan mencampuri hasil
hibrida dan juga mutu hybrid. Biasa yang sering tertinggal adalah pada tanaman betina yang
pertumbuhannya tidak normal yang tingginya tidak sama dengan tanaman yang tumbuh normal.
Bila selesai detaselling dan telah berhasil maka tinggal mengunggu panen, panen sebaiknya di
kupas di lapangan, sesudah menjadi tongkol kupas langsung dibawa processing juga untuk
dikeringkan, pengeringan sebaiknya menggunakan alat pengering, pengeringan menggunakan
lantai jemur akan menghasilkan mutu benih yang kurang baik.
Tabel kegiatan budidaya
Schedule Kegiatan
PRODUKSI BENIH JAGUNG HIBRIDA
Umur
(Hari) Kegiatan Keterangan
-7
0
7-10
14
17
20
28
30
35
40
50
55
70
80-105
Pengolahan lahan
Penanaman
Penyulaman
Penyiangan dan Pembumbunan
Penjarangan Tanaman
Seleksi/rouging
Pemupukan susulan Pertama
PHPT
Pemupukan susulan kedua
Penyiangan
Detaselling
Aplikasi PHT Preventif
Aplikasi PHPT
Panen
Tanah di bajak dengan kedalaman 1 5-20 cm
kemudian di ratakan,
Tanaman betina menggunakan jarak 20 cm dan
jantan 15 cm
Dilakukan pada tanaman yang mati/benih tidak
tumbuh
Pemberantasan gulma pada lahan tanaman
jagung
Menggunakan pisau tajam
Dengan cara memotong tanaman CVL atau off
type
Pemupukan urea 1/3 dosis
Semprot disemua bagian waspada terhadap
penyakit bulai
Pemupukan urea 1/3 dosis
Pemberantasan gulma pada lahan jagung
Pencabutan bunga janta pada tanaman betina
Waspada ulat tongkol
Pada perakaran dan tongkol
Jangan sampai terlalu muda dan telat panen
karena akan mempengaruhi kualitas benih,
dengan ciri biji jagung sudah tampak keras,
bernas, mengkilap, dan sudah terbentuk balck
layer dan kelobot sudah menguning
3. MEMPROSES BENIH
Selain kegiatan pemanenan selesai pada tingkat kadar air 20-40 % tongkol jagung
langsung dibawa ke box dryer sampai mencapai kadar air 16% setelah itu dilakukan pemipilan
dilanjutkan pengeringan sampai kadar air 11-12% selama proses pengeringan di box dryer
temperatur yang dibutuhkan harus sesuai dengan kebutuhan yaitu:
Kadar air Temperatur
33% dan > 33%
28% – 32 %
<27
38 0C
40 0C
42 0C
Selama proses pengeringan berlangsung pengamatan kadar air dilakukan setiap 4 jam
sekali. Dan temperatur setiap jam sekali, kemudian dilakukan pemipilan jagung dibersihkan dan
disortasi dengan tujuan untuk mendapatkan kemurnian benih dengan cara memisahkan biji-biji
yang retak dan kecil.
Agar benih tidak mudah terserang hama dan penyakit dilkukan treatment sebagai berikut:
Apron : 0,5 ml/kg benih
Captain : 0,5 g/kg benih
Sevin : 0,03 g/kg benih
Ridomine : 0,15 g/kg benih
Me tocel : 0,008 g/kg benih
Water : 10 ml/ kg benih
4. MENGUJI DAN SERTIFIKASI BENIH
Benih yang akan ditanam dan disertifikasi harus berasal dari benih penjenis, benih
dasar, benih pokok atau benih sebar. Untuk menghasilkan benih jagung hybrid sebagai materi
induk persilangan dapat dibentuk galur murni (inbred line) single cross dan varietas bersari
silang bebas (open pollination) yang sudah disertifikasi.
Areal sertifikasi adalah areal yang harus dinyatakan dengan jelas batas-batas baik
berupa parit, pematang, jalan atau batas-batas lainnya. Suatu areal sertifikaksi dapat terdiri dari
beberapa unit yang terpisah-pisah tetapi jarak antara satu dengan yang lainnya tidak lebih dari
10 meter dan tidak dipisahkan oleh varietas atau tanaman laninya. Dalam suatu areal sertifikasi
hanya dapat ditanami satu varietas dan satu kelas benih. Batas waktu tanam untuk satu areal
sertifiaksi maksimal 15 hari.
Persyartan dan prosedur sertifikasi jagung hibrida, benih yang dihasilkan:
ü Hybrid single cross keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua galur murni
ü Hybrid double cross merupakan keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua single
murni
ü Hybrid three way cross keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua galur murni
dengan single murni
ü Hybrid top cross merupakan keturunan pertama dari hasil persilangan dua galur murni atau
single cross dengan bersari bebas
ü Hybrid variental cross merupakan keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua
varietas bersari bebas
Kegiatan sertifikasi benih meliputi:
A. Isolasi
Pertanaman jagung yang disertifikasi harus jenis terpisah dari pertanaman
varietas lainnya dengan jarak paling dekat 200 meter, isolasi jarak tersebut dapat
diperpendek jika penangkaran benih bertambah luas, dengan cara menanan induk jantan
pada pinggir tanaman yang berbatasan dengan blok lainnya.
Apabila ada 2 varietas blok yang berdampingan dan akan menghasilkan jagung
hibrida yang berlainan, maka tinggal di atur sedemkian rupa sehingga pada saat
berbunganya berbeda + 1 bulan agar tidak terjadi persilangan.
B. Pemberitahuan pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh pengawas benih tanpa pemberitahuan
terlebih dahulu kepada produsen atau penangkar benih.
C. Pemeliharaan tanaman sebelum pemeriksaan tanaman
Waktu tanam atau tanggal untuk tanaman induk jantan dan betina diatur
sedemikan rupa sehingga saat berbunga dapat bersamaan, pada masa tanaman berumur
+ 20 hari harus dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (roguing) terhadap
varietas lain atau tipe simpang dan tanaman lain yang mungkin tumbuh dari pertanaman
sebelumnya.
Apabila pada pemeriksaan lapangan pertama dan kedua ternyata pertanaman
tidak memenuhi syarat setandar kemurnian lapangan, maka seleksi atau rouging harus
dilakukan setelah pemerikasaan lapangan selesai, kesempaan megulang hanya diberikan
satu kali dan bila mana pada pemerikasaan ulang tidak memenuhi standar kemurnian
lapangan maka proses sertifikasi tidak dapat dilanjutkan.
Pada umur 2-3 minggu setelah tanam diadakan penjarangan dengan memilih
atau mempertahankan tanaman yang sehat dan tegak sehingga diperoleh populasi yang
diinginkan sesuai jarak tanam yang digunakan.
Apabila pertanaman induk betina mulai berbunga (bunga jantan mulai tersumbul)
maka harus diadakan pencabutan terhadap bunga jantan tersebut juga dilakukan terhadap
varietas tipe simpang, setelah klobot lepas diadakan penyeleksian tongkol yang tidak
diharapkan dan biji yang tidak sewarna dibuang.
D. Pembersihan peralatan dan perlengkapan
Alat panen dan perlengkapan yang digunakan dalam produksi benih harus bersih
dan bebas dari kemungkinan campuran varietas lain.
E. Pemeriksaan alat pengolahan
Benih yang akan disetifikasi harus dilah dnega peralatan yang telah diperiksa oleh
pengawasan benih dan disyaratkan kebersihannya oleh balai dan sertifikasi benih.
F. Contoh benih untuk pengujian
Ø Contoh benih yang mewakili untuk di uji dilaboratorium harus diambil sampelnya dari
kelompok benih yang telah selesai diolah dan dikelompokan.
Ø Contoh benih yang akan diambil dari bulk sebelum pengolahan hanya diizinkan untuk
pengujian daya tumbuh
Ø Pengawas benih akan mengambil contoh benih resmi atas permintaan produsen atau
penangkar benih
Pengambilan contoh benih
Kelompok benih
Ø Tiap kelompok benih tidak lebih dari 20 ton
Ø Wadah dari suatu kelompokk harus disusun sedemikian rupa sehingga jumlah dapat di
hitung dengan tepat dan memudahkan dalam pengambilan sampel
Pengambilan contoh benih
Ø Pengambilan sampel benih dilakukan sesuai dengan peraturan/pedoman yang
dikeluaran oleh subdireketorat pengwasan mutu dan sertifikasi benih.
Ø Dari tiap-tiap kelompok harus diambil sampel paling sedikit 1000 gram
Label, warna label untuk benih jagung hibrida adalah biru, sedangkan hibrida galur inbred
dan jagung bersari bebas. Untuk materi induk berlabel berwarna ungu, masa berlaku label
paling lambat 6 bulan sejak tanggal selesainya tanggal pengujian dan paling lama 8 bulan
setelah tanggal panen.
No Standar HIbrida
Komersial
Hibrida matri
induk
Galur materi
induk
Bersari
bebas materi
Induk
A Lapangan
1. Isolasi Jarak 200 m 200 m 200 m 200 m
2. CVL/tipe simpang
Induk betina 3 % 2 % – -
Induk Jantan – 2 % 2 % 2 %
3. Jumlah bunga
Jantan pada betina
yang telah
mengeluarkan tepung
sari
1 x p emeriksaam 1,0 % 1,0 %
3 x pemeriksaam 2,0 % 2,0 %
B. Laboratorium
Kadar air 12,0 % 12,0 % 12,0 % 12,0 %
Benih Murni 98,0% 98,0% 98,0% 98,0%
Kotoran benih 2,0% 2,0% 2,0% 2,0%
CVL 0,2% 0,1% 0,1% 0,1%
BTL 1,0% 1,0% 1,0% 1,0%
Daya Tumbuh 90% 80% 80% 80%
5. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN BENIH
Sewaktu penyimpanan benih dilaksanakan beberapa hal yang harus diperhatikn antara lain:
Ø Dilakukan pengecekan mutu secara teratur tiap bulan
Ø Catat data hasil pengecekan pada buku laporan untuk memudahkan monitoring dan
penggulangan aplikasi klaim mutu benih
Ø Benih yang akan di kemas dijamin bermutu baik dan benih kantongan yang sip dipasarkan
di cek terutama daya tumbuh, kadar air dan hama gudang
A. Penyimpanan Benih
a. Benih yang sudah diolah ditumpuk membentuk lot/kelompok benih
b. Penumpukan diatur sedemikian rupa agar memudahkan pengawasan dan memudahkan
pengambilan contoh serta pemeliharaan
c. Alas tempat penyimpanan berupa pallet kayu atau papan kayu agar karung benih tidak
langsung terkena lantai gudang, benih yang disimpan agar segera di fumigasikan dengan
phostixin atau disemprot menggunakan insektisida
d. Benih yang an disimpan harus dicek kadar air, daya tumbuh dan serangan ham gudang
secara teratur sebulan sekali
e. Apabia kadar air naik >12% dikeringkan kembali dan apabila terlihat hama gudang
dilakukan fumigasi
f. Benih yang disimpan dalam silo di cek secara rutin temperature udara luar dan
dilakukan aerasi setiap tumpukan benih atua lot diberi kartu identitas memuat data
antara lain; nomor lot, tangal panen, jumlah, tanggal pengujian, tanggal penyemprotan
fumigasi
g. Keadaan tempat penyimpanan harus bersih, benih yang tercecer segera di bersihakan
h. Sanitasi gudang dilakukan secara teratur atau berkala
B. Pengendalian Hama Gudang
Pengendaalian hama gudang (rhizoptera dominica, tribolium castaneum, sitopillus
dll) dilakukan sedini mungkin bila terlihat, lakukan pengecekan dan ayakan.
Ada 3 hal yang diperhatiakn dalam pengendalian hama gudang
Secara pencegahan (preventif) yaiut dengan jalan sanitasi atau pembersihan lantai gudang,
mesin-mesin dan peralatan yang digunakan untuk pengringan dan pengolahan
Fumigasi 3 hari 3 malam dengan phostoxin dosis 3-5 tablet per ton, fumigasi dilakukan
segera setelah pembersihan atau sortasi setiap 2 bulan atua terlihat serangan hama.
Penyemprotan dengan insektisida dengan interval waktu 3-4 minggu untuk pencegahan
serangan hama setelah fumigasi, Insektisida yang digunakan harus hkusus untuk
pemberantasan hama gudang penyemprotan tidak hanya pada tumpukan benih tetapi juga
pada lantai gudang, pemberantasn tikus mengunakan racun misalnya menggunakn racun
minimal dosis 5 %.
C. Pengepakan dan Pengantongan
Benih dikantong dengan plastik poly ethylin (PE), 5 kg atau sesuai dengan permintaan
pasar, apabila menggunakan kemasan 10 kg dianjurkan menggunakn plastic
polypropophyline (PP) kontong tersebut lebih trasparan sehingga mutu penampilan benih
akan lebih terlihat lebh baik dan harganya lebih murah
Skema kegiatan simpan kemas
Penerimaan dan perawatan benih bersih + 8 hari
– Penyusunan lot-lot benih
– Penberian identitas benih
– Pengambilan sampel untuk biji
– Mendampingi petugas BPSB saat pengambilan uji laboratorium
– Melakukan uji laboratorium intern
– Pengendalian hama gudang secara tertip dan terpadu
– Menjaga kebersihan dan sanitasi gudang
– Pembiatan administrasi pengujian benih dan hasil pengujian
– Pengaturan benih
– Menyiapkan bahan
– Fumigasi
– Penyiapan label
– Melakukan pengemasan
– Pengaturan lot
– Kelancaran pemasaran
– Pembuatan administrsi gudang
Penerimaan dan
perawatan benih
bersih + 8 hari
Penerimaan dan
perawatan benih
lulus + 3hari
Penerimaan dan
perawatan benih
kantong + 1 hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: