Posted by 4miexs.
Dalam pengembangan dan memproduksi benih jagung hibrida yang bermutu ada 2 (dua) hal yang perlu diperhatikan yaitu cara bercocok tanam dan pemeliharaan tanaman. Cara bercocok tanam untuk tujuan produksi benih pada dasarnya sama dengan untuk tujuan konsumsi. Namun untuk tujuan produkis benih diperlukan persyaratan dan perlakuan khusus untuk menjamin sejak dini mutu benih yang dihasilkan. Pemeliharaan juga memiliki pengertian yang luas dibanding dengan pemeliharaan pertanaman untuk tujuan konsumsi. Dalam produksi benih pemeliharaan pertanaman merupakan tindakan penelitian pertanaman sejak awal sampai dengan pemungutan hasil. Titik berat tindakan adalah melakukan penelitian di lapangan agar hasil diperoleh memenuhi persyaratan kemurnian, keseragaman dan kebersihan sesuai dengan garis dan deskripsi dari varietas yang di tanam. Sehingga kegitan dalam perbanyakan benih jagung hibrida harus melalui tahap – tahap yang sesuai agar dapat diperoleh benih hybrid yang bermutu tinggi, kegiatan ini meliputi: 1. MERENCANAKAN PRODUKSI BENIH Perencanaan produksi benih merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum produksi benih suatu varietas dilakukan, diakui bahwa pekerjaan ini merupakan pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan tidak akan pernah sempurna, karena banyak sekali faktor yang terkait yang dapat mempengaruhi rencana yang telah dibuat. Perencanaan produksi dilakukan pada waktu produsen akan memproduksi benih suatu varietas, dan tidak dimaksudkan untuk menunjuk pada pembuatan rencana jangka panjang missal 5 tahun karena hal ini sifatnya toritis dan sangat terpengaruh oleh kondisi Negara terutama masalah ekonomi dan politik. Meskipun demikian perencanaan prodiksi benih harus tetap memperhatikan trend jangka waktu dua atau tiga musim tanam mendatang, berkiatan dengan program produksi dimana untuk menghasilkan sejumlah benih sering kali dibutuhkan waktu panjang tergantung dari varietasnya. Peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar baik melalui peningkatan produktivatas maupun perluasan areal tanam. Meskipun produksi jagung meningkat, namun secara umum tingkat produktivitas jagung Nasional masih rendah , yaitu baru mencapai 3,1 ton/ha. Kegiatan litbang jagung dari berbagi instansi baik pemerintah atau swasta telah mampu menyediakan teknologi produksi jagung dengan tingkat produktivitas 4,5-10 ton/ha tergantung dari potensi dan teknologi produksiya. Telah diketahui bahwa produktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh lingkungan (iklim dan kondisi lahan) dan varietas yang telah ditanam. Aplikasi teknik budidaya jagung tepat disuatu lahan akan mampu membantu ketersedian unsur hara yang diperlukan dan akan memberikan hasil yang lebih tinggi. Populasi tanaman juga merupakan salah satu faktor yang menentukan produksi tanaman. Populasi atau jarak tanam erat hubungannya dengan umur varitas yang di tanam. Pengembangan jagung akan berjalan baik jika petani merasa memperolah pendapatan yang menguntungkan, untuk itu diperlukan teknolgi atua pendekatan budidaya jagung yang mampu memberikan produktivitas tinggi persatuan luas lahan dan dalam produksi yang efesien. Bertalian dengan hal tersebut produksi jagung melalui pendekatan pengolahan sumber daya tanam terpadu dengan menerapkan sejumlah komponen teknologi budidaya yang memberikan pengaruh secara sinergistik merupakan pendekatan yang sesuai. Salah satu hal yang berkaitan dengan perencanaan adalah pemilihan lokasi untuk tanaman, perbanyakan F 1 harus diisolasi dari tanaman jagung lainnya. Lahan harus mudah diari bila musim kemarau dan dapat dibuang airnya bila musim penghujan, penananamn dilakukan pada akhir musim penghujan sampai musim kemarau, karena serangan hama penyakit, masa pembungaan dan pemanenan tidak menjadi faktor kesulitan. Pola lahan yang dipakai sebaiknya bukan bekas tanaman jagung, karena kemungkinan pada saat tanam terdapat volunteer dan ini akan menylitkan dalam penyeleksian, rouging dan jelas ini akan mengkontaminasi perbanyakan benih, lahan yang digunakan harus terbuka tidak boleh ternaungi terutama dari arah timur. 2. MEMPRODUKSI BENIH DI LAPANGAN Sebelum pelaksanan kegiatan dilapangan dilakukan harus mengetahui persyaratan umum untuk mendpatkan hasil panen yang optimal, kondisi lingkungan dan lokasi terbaik untuk pertanaman jagung memerlukan persyaratan : Tinggi tempat : 0 – 1000 m dpl Suhu : 210C– 23 0C dan suhu optimum 240C – 30 0C pH tanah : 5,5 – 7,00 Curah hujan : 250- 2000 mm/th Sinar matahari : intensitasnya cukup dan tidak ternaungi Jenis tanah : terbaik lempung berdebu, lempung berpasir dan lempung Waktu tanam : persyaratan tumbuh yang cukup air biasanya pada lahan sawah setelah pertanaman padi pada lahan tegal awal musim penghujan. Beberapa tahapan dalam memproduksi benih jagung hibrida, a. Pengolahan Tanah Pengolahan dilakukan sebaik mungkin seperti membajak dan meratakan untuk lahan yang berstekstur berat agak lebih sulit mengolahnya dibanding dengan tanah yang bertekstur ringan, terutama dalam mengaturan draenase dan aerase apabila pengaturan ini diatur dengan baik maka pertumbuhan tanaman akan baik sesuai dengan yang kita inginkan. b. Tanam Perlu dipersipakan tambang plastik yang telah diberi jarak tanam misalnya 20 cm dalam barisan tanaman. Untuk jarak tanam antar barisan diperlukan ajir dari bambu untuk menentukan jarak apabila 70 cm atau 75 cm atau beberapa yang sesuai yang direncanakan. Cara bertanam di tugal sedalam + 5 cm sebainya waktu tanam digunakan pupuk kandang bisa berupa kotoran sapi atau ayam kotoran yang digunakan untuk menutup lubang tanam, benih yang ditanam satu biji/lubang tetapi diselang seling ada 2 biji. Hal ini untuknmenghidari penyulaman karena akan membuat tanaman tidak seragam dan mempersulit detaselling, apabila tanaman berlebihan kemudian diperjarang kemudian pula diberi furadan sebelum ditutup, pupuk dasar dapat langsung diberikan atau ketika tanaman sudah tumbuh. c. Pemeliharaan Tanaman Setelah tanaman tumbuh umur 5-6 hari setelah tanam, tanaman mulai di pelihara, hama yang berbahaya pada awal pertumbuhan adalah lalat bibit, terutama banyak menyerang pada musim penghujan. Untuk perbanyakan F1 selain sudah memakai furadan pada saat tanam dan marshall pada saat treatment akan tetapi harus dipantau dan semprot kembali dengan insektisida (decis) menggunakan dosis ½ cc lt air, bila serangan berat akan mengakibatkan daun rusak pucuk daun layu, tanaman tidak mau tumbuh atau perkembangan terhambat berakibat pertumbuhan tanaman terhambat berakibat pertumbuhan tanaman bergam sehingga pembungaan tidak akan bersamaan hal ini harus diantisipasi dan dilakukan tindakan preventif, pengalaman dengan menggunakan decis dengan aplikasi 3 minggu sekali dapat mengatasi hama lalat bibit. Pemelihaaraan lainnya adalah penyiangan, perlu dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman jagung, penyiangan yang lambat terutama pada tanah-tanah tidak subur dan mempengaruhi pertumbuhan galur–galur murni yang ditanam. Penjarangan tanaman harus tepat waktu juga harus dilkukan agar antar tanaman tidak terjadi kompetisi yang akhirnya akan mempengaruhi produksi. Pemupukan susulan pertama dilakukan umur 3-4 minggu setelah tanam pemupukan susulan ke dua pada umur 6 minggu setelah tanam, pemupukan harus sesuai dengan kebutuhan tanaman, yang paling berbahaya pertumbuhan tetua jagung jantan terganggu maka akan terjadi pembungaan yang tidak singkron dan jumlah tepung sari yang akan lebih sedikit. Pada saat menjelang berbunga perlu perlu dilakukan seleksi atau roging yaitu untuk membuang tanaman yang tinggi dan rata-rata tinggi tanaman pada umumnya. Rouging ini sangat dan harus dilakukan agar hasil hybrid ya g diperoleh bermutu tinggi. Pada saa pencabutan bunga jantan atau malai pada barisan pada betina harus tepat waktu dan harus berhasil dan jangan sampai tertinggal. Bila tetinggal akan mencampuri hasil hibrida dan juga mutu hybrid. Biasa yang sering tertinggal adalah pada tanaman betina yang pertumbuhannya tidak normal yang tingginya tidak sama dengan tanaman yang tumbuh normal. Bila selesai detaselling dan telah berhasil maka tinggal mengunggu panen, panen sebaiknya di kupas di lapangan, sesudah menjadi tongkol kupas langsung dibawa processing juga untuk dikeringkan, pengeringan sebaiknya menggunakan alat pengering, pengeringan menggunakan lantai jemur akan menghasilkan mutu benih yang kurang baik. Tabel kegiatan budidaya Schedule Kegiatan PRODUKSI BENIH JAGUNG HIBRIDA Umur (Hari) Kegiatan Keterangan -7 0 7-10 14 17 20 28 30 35 40 50 55 70 80-105 Pengolahan lahan Penanaman Penyulaman Penyiangan dan Pembumbunan Penjarangan Tanaman Seleksi/rouging Pemupukan susulan Pertama PHPT Pemupukan susulan kedua Penyiangan Detaselling Aplikasi PHT Preventif Aplikasi PHPT Panen Tanah di bajak dengan kedalaman 1 5-20 cm kemudian di ratakan, Tanaman betina menggunakan jarak 20 cm dan jantan 15 cm Dilakukan pada tanaman yang mati/benih tidak tumbuh Pemberantasan gulma pada lahan tanaman jagung Menggunakan pisau tajam Dengan cara memotong tanaman CVL atau off type Pemupukan urea 1/3 dosis Semprot disemua bagian waspada terhadap penyakit bulai Pemupukan urea 1/3 dosis Pemberantasan gulma pada lahan jagung Pencabutan bunga janta pada tanaman betina Waspada ulat tongkol Pada perakaran dan tongkol Jangan sampai terlalu muda dan telat panen karena akan mempengaruhi kualitas benih, dengan ciri biji jagung sudah tampak keras, bernas, mengkilap, dan sudah terbentuk balck layer dan kelobot sudah menguning 3. MEMPROSES BENIH Selain kegiatan pemanenan selesai pada tingkat kadar air 20-40 % tongkol jagung langsung dibawa ke box dryer sampai mencapai kadar air 16% setelah itu dilakukan pemipilan dilanjutkan pengeringan sampai kadar air 11-12% selama proses pengeringan di box dryer temperatur yang dibutuhkan harus sesuai dengan kebutuhan yaitu: Kadar air Temperatur 33% dan > 33% 28% – 32 % <27 38 0C 40 0C 42 0C Selama proses pengeringan berlangsung pengamatan kadar air dilakukan setiap 4 jam sekali. Dan temperatur setiap jam sekali, kemudian dilakukan pemipilan jagung dibersihkan dan disortasi dengan tujuan untuk mendapatkan kemurnian benih dengan cara memisahkan biji-biji yang retak dan kecil. Agar benih tidak mudah terserang hama dan penyakit dilkukan treatment sebagai berikut: Apron : 0,5 ml/kg benih Captain : 0,5 g/kg benih Sevin : 0,03 g/kg benih Ridomine : 0,15 g/kg benih Me tocel : 0,008 g/kg benih Water : 10 ml/ kg benih 4. MENGUJI DAN SERTIFIKASI BENIH Benih yang akan ditanam dan disertifikasi harus berasal dari benih penjenis, benih dasar, benih pokok atau benih sebar. Untuk menghasilkan benih jagung hybrid sebagai materi induk persilangan dapat dibentuk galur murni (inbred line) single cross dan varietas bersari silang bebas (open pollination) yang sudah disertifikasi. Areal sertifikasi adalah areal yang harus dinyatakan dengan jelas batas-batas baik berupa parit, pematang, jalan atau batas-batas lainnya. Suatu areal sertifikaksi dapat terdiri dari beberapa unit yang terpisah-pisah tetapi jarak antara satu dengan yang lainnya tidak lebih dari 10 meter dan tidak dipisahkan oleh varietas atau tanaman laninya. Dalam suatu areal sertifikasi hanya dapat ditanami satu varietas dan satu kelas benih. Batas waktu tanam untuk satu areal sertifiaksi maksimal 15 hari. Persyartan dan prosedur sertifikasi jagung hibrida, benih yang dihasilkan: ü Hybrid single cross keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua galur murni ü Hybrid double cross merupakan keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua single murni ü Hybrid three way cross keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua galur murni dengan single murni ü Hybrid top cross merupakan keturunan pertama dari hasil persilangan dua galur murni atau single cross dengan bersari bebas ü Hybrid variental cross merupakan keturunan pertama dari hasil persilangan antara dua varietas bersari bebas Kegiatan sertifikasi benih meliputi: A. Isolasi Pertanaman jagung yang disertifikasi harus jenis terpisah dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling dekat 200 meter, isolasi jarak tersebut dapat diperpendek jika penangkaran benih bertambah luas, dengan cara menanan induk jantan pada pinggir tanaman yang berbatasan dengan blok lainnya. Apabila ada 2 varietas blok yang berdampingan dan akan menghasilkan jagung hibrida yang berlainan, maka tinggal di atur sedemkian rupa sehingga pada saat berbunganya berbeda + 1 bulan agar tidak terjadi persilangan. B. Pemberitahuan pemeriksaan Lapangan Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh pengawas benih tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada produsen atau penangkar benih. C. Pemeliharaan tanaman sebelum pemeriksaan tanaman Waktu tanam atau tanggal untuk tanaman induk jantan dan betina diatur sedemikan rupa sehingga saat berbunga dapat bersamaan, pada masa tanaman berumur + 20 hari harus dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (roguing) terhadap varietas lain atau tipe simpang dan tanaman lain yang mungkin tumbuh dari pertanaman sebelumnya. Apabila pada pemeriksaan lapangan pertama dan kedua ternyata pertanaman tidak memenuhi syarat setandar kemurnian lapangan, maka seleksi atau rouging harus dilakukan setelah pemerikasaan lapangan selesai, kesempaan megulang hanya diberikan satu kali dan bila mana pada pemerikasaan ulang tidak memenuhi standar kemurnian lapangan maka proses sertifikasi tidak dapat dilanjutkan. Pada umur 2-3 minggu setelah tanam diadakan penjarangan dengan memilih atau mempertahankan tanaman yang sehat dan tegak sehingga diperoleh populasi yang diinginkan sesuai jarak tanam yang digunakan. Apabila pertanaman induk betina mulai berbunga (bunga jantan mulai tersumbul) maka harus diadakan pencabutan terhadap bunga jantan tersebut juga dilakukan terhadap varietas tipe simpang, setelah klobot lepas diadakan penyeleksian tongkol yang tidak diharapkan dan biji yang tidak sewarna dibuang. D. Pembersihan peralatan dan perlengkapan Alat panen dan perlengkapan yang digunakan dalam produksi benih harus bersih dan bebas dari kemungkinan campuran varietas lain. E. Pemeriksaan alat pengolahan Benih yang akan disetifikasi harus dilah dnega peralatan yang telah diperiksa oleh pengawasan benih dan disyaratkan kebersihannya oleh balai dan sertifikasi benih. F. Contoh benih untuk pengujian Ø Contoh benih yang mewakili untuk di uji dilaboratorium harus diambil sampelnya dari kelompok benih yang telah selesai diolah dan dikelompokan. Ø Contoh benih yang akan diambil dari bulk sebelum pengolahan hanya diizinkan untuk pengujian daya tumbuh Ø Pengawas benih akan mengambil contoh benih resmi atas permintaan produsen atau penangkar benih Pengambilan contoh benih Kelompok benih Ø Tiap kelompok benih tidak lebih dari 20 ton Ø Wadah dari suatu kelompokk harus disusun sedemikian rupa sehingga jumlah dapat di hitung dengan tepat dan memudahkan dalam pengambilan sampel Pengambilan contoh benih Ø Pengambilan sampel benih dilakukan sesuai dengan peraturan/pedoman yang dikeluaran oleh subdireketorat pengwasan mutu dan sertifikasi benih. Ø Dari tiap-tiap kelompok harus diambil sampel paling sedikit 1000 gram Label, warna label untuk benih jagung hibrida adalah biru, sedangkan hibrida galur inbred dan jagung bersari bebas. Untuk materi induk berlabel berwarna ungu, masa berlaku label paling lambat 6 bulan sejak tanggal selesainya tanggal pengujian dan paling lama 8 bulan setelah tanggal panen. No Standar HIbrida Komersial Hibrida matri induk Galur materi induk Bersari bebas materi Induk A Lapangan 1. Isolasi Jarak 200 m 200 m 200 m 200 m 2. CVL/tipe simpang Induk betina 3 % 2 % – - Induk Jantan – 2 % 2 % 2 % 3. Jumlah bunga Jantan pada betina yang telah mengeluarkan tepung sari 1 x p emeriksaam 1,0 % 1,0 % 3 x pemeriksaam 2,0 % 2,0 % B. Laboratorium Kadar air 12,0 % 12,0 % 12,0 % 12,0 % Benih Murni 98,0% 98,0% 98,0% 98,0% Kotoran benih 2,0% 2,0% 2,0% 2,0% CVL 0,2% 0,1% 0,1% 0,1% BTL 1,0% 1,0% 1,0% 1,0% Daya Tumbuh 90% 80% 80% 80% 5. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN BENIH Sewaktu penyimpanan benih dilaksanakan beberapa hal yang harus diperhatikn antara lain: Ø Dilakukan pengecekan mutu secara teratur tiap bulan Ø Catat data hasil pengecekan pada buku laporan untuk memudahkan monitoring dan penggulangan aplikasi klaim mutu benih Ø Benih yang akan di kemas dijamin bermutu baik dan benih kantongan yang sip dipasarkan di cek terutama daya tumbuh, kadar air dan hama gudang A. Penyimpanan Benih a. Benih yang sudah diolah ditumpuk membentuk lot/kelompok benih b. Penumpukan diatur sedemikian rupa agar memudahkan pengawasan dan memudahkan pengambilan contoh serta pemeliharaan c. Alas tempat penyimpanan berupa pallet kayu atau papan kayu agar karung benih tidak langsung terkena lantai gudang, benih yang disimpan agar segera di fumigasikan dengan phostixin atau disemprot menggunakan insektisida d. Benih yang an disimpan harus dicek kadar air, daya tumbuh dan serangan ham gudang secara teratur sebulan sekali e. Apabia kadar air naik >12% dikeringkan kembali dan apabila terlihat hama gudang dilakukan fumigasi f. Benih yang disimpan dalam silo di cek secara rutin temperature udara luar dan dilakukan aerasi setiap tumpukan benih atua lot diberi kartu identitas memuat data antara lain; nomor lot, tangal panen, jumlah, tanggal pengujian, tanggal penyemprotan fumigasi g. Keadaan tempat penyimpanan harus bersih, benih yang tercecer segera di bersihakan h. Sanitasi gudang dilakukan secara teratur atau berkala B. Pengendalian Hama Gudang Pengendaalian hama gudang (rhizoptera dominica, tribolium castaneum, sitopillus dll) dilakukan sedini mungkin bila terlihat, lakukan pengecekan dan ayakan. Ada 3 hal yang diperhatiakn dalam pengendalian hama gudang Secara pencegahan (preventif) yaiut dengan jalan sanitasi atau pembersihan lantai gudang, mesin-mesin dan peralatan yang digunakan untuk pengringan dan pengolahan Fumigasi 3 hari 3 malam dengan phostoxin dosis 3-5 tablet per ton, fumigasi dilakukan segera setelah pembersihan atau sortasi setiap 2 bulan atua terlihat serangan hama. Penyemprotan dengan insektisida dengan interval waktu 3-4 minggu untuk pencegahan serangan hama setelah fumigasi, Insektisida yang digunakan harus hkusus untuk pemberantasan hama gudang penyemprotan tidak hanya pada tumpukan benih tetapi juga pada lantai gudang, pemberantasn tikus mengunakan racun misalnya menggunakn racun minimal dosis 5 %. C. Pengepakan dan Pengantongan Benih dikantong dengan plastik poly ethylin (PE), 5 kg atau sesuai dengan permintaan pasar, apabila menggunakan kemasan 10 kg dianjurkan menggunakn plastic polypropophyline (PP) kontong tersebut lebih trasparan sehingga mutu penampilan benih akan lebih terlihat lebh baik dan harganya lebih murah Skema kegiatan simpan kemas Penerimaan dan perawatan benih bersih + 8 hari - Penyusunan lot-lot benih - Penberian identitas benih - Pengambilan sampel untuk biji - Mendampingi petugas BPSB saat pengambilan uji laboratorium - Melakukan uji laboratorium intern - Pengendalian hama gudang secara tertip dan terpadu - Menjaga kebersihan dan sanitasi gudang - Pembiatan administrasi pengujian benih dan hasil pengujian - Pengaturan benih - Menyiapkan bahan - Fumigasi - Penyiapan label - Melakukan pengemasan - Pengaturan lot - Kelancaran pemasaran - Pembuatan administrsi gudang Penerimaan dan perawatan benih bersih + 8 hari Penerimaan dan perawatan benih lulus + 3hari Penerimaan dan perawatan benih kantong + 1 hari
Fill in your details below or click an icon to log in:
You are commenting using your WordPress.com account. ( Log Out / Change )
You are commenting using your Twitter account. ( Log Out / Change )
You are commenting using your Facebook account. ( Log Out / Change )
Connecting to %s
Notify me of follow-up comments via email.
Get every new post delivered to your Inbox.